Religion is a person’s private domain: Young writers

Amid widespread acts of violence by hard-line religious groups in different parts of the country against minorities, three young writers have received the Ahmad Wahib award for their essays on religion diversity. Indonesia Institute of Sciences (LIPI) researcher Fahd Pahdepie won first prize ...

Ma’arif: Umat Islam Perlu Terbuka Terhadap Perbedaan Kelompok

YOGYAKARTA--Sejak sebelas tahun terakhir ini di Indonesia muncul gerakan radikal atau setengah radikal yang berbaju Islam yang antidemokrasi dan antipluralisme. Di antaranya Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, dan Hizbut Tahrir Indonesia. ''Mereka hanya bergaul dengan kelompoknya sendiri. Padahal kalau pergaulan hanya dengan ...

Bahtiar Effendy: Tantangan Kita Beda dengan Tantangan Cak Nur

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Bahtiar Effendy menegaskan bahwa tantangan saat ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur) ketika tahun 1970-an. Hal ini ia katakan, pada saat acara peringatan 40 ...

Menakar Peluang Tiga Pasangan

Moh. Shofan

Peneliti Yayasan Paramadina Jakarta

Hampir pasti tiga pasangan segera mendeklarasikan diri untuk bertarung di Pilpres 8 Juli 2009. Majunya tiga pasangan capres-cawapres dalam Pemilu Presiden 2009 diyakini semakin menambah pilihan publik terhadap alternatif calon pemimpin bangsa. Dengan demikian, publik juga dapat membedakan satu kandidat dengan kandidat lainnya. Baik dari kualitas, kapabilitas, dan integritas masing-masing pasangan. Ada duet Jusuf Kalla-Wiranto, SBY-Boediono, dan Megawati-Prabowo. Ketiga pasangan capres maupun cawapres tersebut sama-sama dari latar belakang nasionalis-sekuler, meski sipil-militer masih berlaku di tiga kandidat tersebut.

Jatuhnya pilihan SBY terhadap Boediono–Gubernur Bank Indonesia, yang juga dikenal sebagai ahli ekonomi–lebih menarik perhatian SBY dari pada Hatta Radjasa. Tidak dipilihnya Hatta Radjasa sebagai wakil presiden SBY, selain akan memunculkan friksi di antara peserta koalisi, juga akan memunculkan kesan SBY bisa didikte Amien Rais. Memilih Boediono, jelas telah dipertimbangkan secara matang oleh SBY dan Partai Demokrat, meski faktanya jatuhnya pilihan cawapres SBY pada Boediono mengagetkan banyak pihak, terutama pihak yang terlibat dalam koalisi mendukung SBY.

Boediono yang pernah menjabat sebagai menteri keuangan di era Megawati ini, dikenal sebagai motor privatisasi perusahaan nasional. Bahkan Boediono dinilai sebagai simbol neo-liberalisme yang membawa keterpurukan ekonomi bangsa. Banyak pengamat mengatakan bahwa pilihan SBY pada Boediono lebih karena ‘selera internasional’. Tetapi, benar atau tidaknya, yang jelas bahwa isyarat awal ketidaknyamanan tersebut terbukti dengan protesnya partai peserta koalisi, seperti PKS, PAN dan PPP. Proses jatuhnya pilihan SBY pada Boediono dinilai tanpa komunikasi sama sekali dengan parta-partai yang berada dalam koalisi. Selengkapnya

Using <!--[if lte 7]> Microsoft Internet Explorer <![endif]--> won't make you happy. Trust me! Many modern browsers out there, have amazing features, supported by many developers and community: Firefox, Opera, Chrome, Safari, Flock, and Seamonkey. Best of all, it's free. Pick one of them and you'll be happy. Promise! Please consult Browse Happy if you want to know more.